TUGAS MAKALAH
AKHLAK
DAN KEBUDAYAAN BUTON
PROSESI
ADAT BUTON HAROA
![]() |
DI SUSUN OLEH :
NAMA : ANISA
NIM : 14
650 16
KELAS : A
DOSEN BIDANG STUDY : LA ODE RAMLAN SE,M.Si
PROGRAM STUDI
TEKNIK INFORMATIKA
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS
DAYANU IKHSANUDDIN BAUBAU
2014 / 2015
KATA
PENGANTAR
Puji dan syukur kehadirat Allah yang maha Esa
karena atas rahmat dan hidayah-Nya, penulis dapat menyelesaikan tugas makalah ini pada waktu
yang telah direncanakan. Tak lupa ucapkan terimakasih kepada Dosen
Pembimbing mata kuliah Akhlak Dan Kebudayaan Buton yang telah memberikan tugas
ini.
Makalah ini Membahas Tentang Prosesi Adat
Masyarakat Buton Yaitu Haroa, selanjutnya pada poin-poin makalah, akan
dijelaskan dengan rinci agar mudah
dipahami oleh pembaca dan diharapkan juga agar makalah ini membantu kita
menambah pengetahuan dan wawasan kita khususnya kita yang berdomisili di Daerah
Buton.
Semoga karya tulis ini bermanfaat bagi
pembaca terutama bagi penulis pribadi, dapat menambah pengetahuan kita
khususnya pada Prosesi Adat Masyarakat Buton Yaitu Haroa dan apa saja manfaat
dari Haroa Tersebut .
Penulis menyadari, karya tulis ini jauh dari
sempurna karena kesempurnaan hanya milik
Allah subhanahu Wataala. Tapi penulis telah berusaha semaksimal mungkin dalam
pembuatan karya tulis ilmiah ini. Oleh karena itu, kritik maupun saran sangat
diharapkan agar karya tulis ilmiah ini menjadi lebih baik.
.
Baubau, 20 November 2014
Penulis
DAFTAR
ISI
Halaman
Judul...................................................................................................................... i
Kata
Pengantar.................................................................................................................... ii
Daftar
Isi............................................................................................................................. iii
Bab I Pendahuluan......................................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang............................................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah ....................................................................................... 2
1.3 Tujuan ......................................................................................................... 2
Bab II Pembahasan
......................................................................................................... 3
2.1 Pengertian Prosesi adat buton Yaitu haroa ,.......................................... 4
2.2 Jenis pelaksanaan Haroa Di
Buton............................................................. 4
2.3 Perlu adanya Pelaksanaan Haroa di Buton.................................................. 6
2.4 Manfaat Yang Di Peroleh dari Pelaksaan Haroa di Buton.......................... 6
Bab III Penutup................................................................................................................. 7
3.1 Kesimpulan.................................................................................................. 7
3.2 Saran............................................................................................................ 7
Daftar
Pustaka
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Yang melatar belakangi
terselenggaranya Haroa Merupakan tradisi yang dapat membangun dan menjaga
hubungan keakraban dan kekeluargaan antara banyak orang khususnya menjelang
pelaksanaan hari-hari besar islam dan dengan di adakannya haroa dikalangan
masyarakat Buton diyakini bahwa adanya Sumanga
(arwah) nanti
marah dan terkena tulah (dikirimi penyakit), Pemali . Orang-orang Buton umumnya mempercayai bahwa para kerabat yang telah meninggal sebenarnya hanya
berpindah hidup ke alam lain. Kematian badaniah tidaklah juga adalah kematian roh. Dalam pemahaman orang-orang tua Buton, roh
tidaklah mati, sekalipun badan tempatnya bertinggal telah binasa diambil tanah.
Ia terus bebas berpindah dan hidup. Itulah dalam Wolio roh disebut Lipa, Lipa adalah kata dalam Wolio yang bermakna ‘berpindah’, atau ‘pergi’.
Schoorl memakai kata ini untuk merujuk ke berpindahnya roh yang ia sebut
sebagai reinkarnasi. Bagi sebagian orang Buton, kematian badaniah tidak sertamerta
memutus komunikasi dengan roh kerabat yang telah mendahului
menghadap-Nya itu, Ini pula rupanya diyakini umumnya masyarakat Buton. Sehingga
kemudian akan sering kita melihat ritual-ritual yang dipakai sebagai media
komunikasi dengan kerabat yang telah mendahului itu. Orang-orang Buton memberi identitas tersendiri kepada semua arwah
leluhur itu dengan menamai mereka sebagai Sumanga.
Sumanga adalah arwah leluhur yang dipercayai terus memperhatikan, dan memerlukan
pula perhatikan. Jika tidak, mereka akan melakukan ‘protes’ dan menegur dengan
mengirim tuah penyakit. Memang sulit dinalar ini bisa terjadi, tetapi bukankah
yang terjadi di bumi fana ini ada banyak sekali yang tak bisa di nalar dan
keluar dari pakem perangkap nalar akal. Beberapa orang tua bahkan menyebut Haroa
itu sebenarnya adalah pembutonan kata ‘Arwah’ sebagaimana
‘Sahadha’ untuk ‘Sahadat’.
1.2
Rumusan Masalah
Adapun Rumusan Masalah
Dalam Makalah Prosesi Haroa Tersebut Adalah :
1.
Apa Yang
Di Maksud Dengan Haroa di Buton ?
2.
Mengapa
Masyarakat Buton Mengadakan Haroa ?
3.
Penjabaran
Macam – Macam Haroa di Buton ?
4.
Dan Manfaat Apa Saja Yang Dapat Diambil dari
Pelaksanaan Adanya Haroa ?
1.3
Tujuan
Adapun tujuan dalam
makalah prosesi haroa adalah Untuk menambah wawasan lebih dalam lagi tentang prosesi adat Buton yaitu Haroa, Makna apa saja yang terkandung dalam
sebuah prosesi tersebut dan kenapa harus di selenggarakan prosesi tersebut
karena sudah menjadi suatu adat kebiasaan yang selalu di selenggarakan pada
hari ketentuan Haroa.
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1
Pengertian Prosesi Adat Haroa di
Buton
Haroa merupakan Perayaan Hari Besar Islam. Bagi Masyarakat
Buton, Haroa merupakan salah satu perayaan yang takkan dilewatkan. Menurut pribadi saya, Haroa sendiri merupakan
perayaan yang dapat memberikan pelajaran-pelajaran kecil yang bermakna
religious dan dapat dikatakan efesien, Kita akan memanjatkan doa dalam
sepanjang pelaksanaannya. Dan dapat memperat tali slaturahmi antar kerabat
supaya lebih erat dan tidak putus. Haroa juga dapat berarti tradisi acara/perayaan
bersama-sama dapat menjadi sarana resolusi konflik serta integrasi dari
beberapa suku di pulau Buton dan sekitarnya, penelitian ini menggunakan metode
kualitatif dengan pendekatan etnografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
pelaksanaan tradisi haroa di adakan di rumah-rumah orang, dimana semua anggota keluarga dan tetangga di
undang. Acara seperti ini bisa menciptakan suasana harmoni, dan kebersamaan
dengan berdoa bersama – sama, berjabat tangan dan menyapa diikuti oleh makan
bersama.
Haroa biasa dilaksanakan di dalam
rumah-rumah warga diikuti anggota rumah
dan tetangga yang diundang. Mereka duduk
mengumpul pada satu ruangan . Acara biasa diawali dengan Pembacaan ayat-ayat
suci al-quran yang di lakukan oleh Lebe kemudian, meletakkan Dupa yang dibakar
sebagai pelengkap Haroa.
![]() |
![]() |
Pengaturan cara penyimpanan Pembacaan Ayat-ayat alquran serta
isi talang haroa pengimpanan
dupa pada bara api

Ditutup dengan makan bersama, Undangan di suguhkan dengan
makanan-makanan khas Buton. Terdapat kue-kue kecil sebagai makanan penutup dan
hanya ditemukan didaerah Buton. Seperti, Onde-onde, baruasa (kue beras), ngkaowi-owi
(ubi goreng), sanggara (pisang goreng).
Khasnya, kue-kue tersebut biasa di bawa pulang. Dan itu disebut Katange.
4.1 Gambar Prosesi setelah Haroa 4.2 Gambar
Makanan Isi Talang Haroa
2.2
Jenis Pelaksanaan haroa yang ada di Buton
Ada
beberapa Jenis Haroa dalam pelaksanaannya antara lain :
1. Pekandeana anana
maelu
Haroa ini diadakan
setiap tanggal 10 Muharram. Tanggal 10 Muharram dirayakan oleh para sufi dengan
tersedu-sedu. Pada hari ini, cucu Rasulullah, Hussein bin Ali, dibantai bersama
seluruh keluarga dan pengikutnya. Makanya, di kalangan penganut ahlul bayt,
tanggal 10 Muharram senantiasa dirayakan agar menjadi pelajaran bagi generasi
penerus.
2.
Haroana Maludu
Haroa maludu dilaksanakan pada Bulan
Rabiul Awal. Yang dilaksanakan untuk memperinganti Hari Lahir Nabi umat Islam,
MUHAMMAD SAW. Haroa Maludhu
merupakan kegiatan ritual budaya yang bernuansa Islam dan mengandung filosofi
terhadap peradaban masyarakat Buton. Sehingga pada pelaksanaannya terlihat
kesakralan dalam rangka memperingati kelahiran baginda Nabi Muhammad SAW yang
merupakan Rahmatan Lil Alamin.
3.
Haroana Rajabu
Adalah untuk memperingati Syuhada
yang gugur dimedan perang dan mereka telah memperjuangkan Islam bersama Nabi
Muhammad SAW . Haroana
Rajabu dilakukan pada hari Jumat pertama di bulan Rajab dengan melakukan
tahlilan serta berdoa semoga para syuhada tersebut diberi ganjaran yang
setimpal oleh Allah.
4.
Malona Bangua
Haroa yg satu ini dilaksanakan pada
Hari Pertama Ramadhan. Pada masa silam, hari pertama Ramadhan
dimeriahkan dengan dentuman meriam. Kini, dentuman meriam itu sudah tidak
terdengar. Masyarakat merayakannya dengan doa bersama di rumah serta membakar
lilin di kuburan pada malam hari .
5.
Qunua
Qunua ini berkaitan dengan Nuzul
Qur’an (Qunut). Biasa dilaksanakan pada pertengahan bulan suci Ramadhan atau pada 15 malam
puasa. Dulunya, masyarakat memeriahkannya dengan membawa makanan ke masjid keraton
dan dimakan secara bersama-sama menjelang waktu sahur. Qunua dilakukan salat tarwih dan dirangkaian
dengan sahur secara bersama-sama di dalam masjid.
6.
Kadhiri
Upacara yang berkaitan dengan turunnya
Lailatul Qadr di bulan suci Ramadhan. Upacara ini tgata pelaksanannya mirip
dengan Qunua, yakni setelah salat Tarwih dirangkaikan dengan sahur secara
bersama-sama di dalam masjid. Biasanya dilaksanakan pada 27 malam Ramadhan
karena diyakini pada malam itulah turunnya Lailatul Qadr.
2.3 Perlu adanya Pelaksanaan Haroa di Buton
Prosesi adat haroa sangat di
perlukan karena ritual ini
menurut masyarakat Buton dipakai sebagai media menggamit tangan tangan
arwah leluhur sebagai bentuk memerhatikan mereka, sebagai wujud tidak mereka
dilupakan. Inilah Haroa, sarana silaturahim dengan arwah para leluhur.
2.4 Manfaat Yang Di Peroleh dari Pelaksaan
Haroa di Buton.
Adapun Manfaat pelaksanaan
haroa di Buton adalah Mempererat tali silaturahmi antar suku maupun kerabat yang berbeda supaya lebih erat dan tidak putus, dan menumbuhkan suasana harmoni kekeluargaan
.
BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Betapa pentingnya proses
penyelenggaraan Haroa selain sebagai sarana mengenang para arwah leluhur juga
untuk mempererat tali silaturahmi antar masyarakat, dan juga sebagai peredam
rasa konflik antar suku yang berbeda. haroayang di awali dengan berdoa bersama, salam-salaman dan
dilanjutkan dengan santap bersama juga
biasa dihadiri para undangan yang bukan hanya handai toulan, tetapi juga
dihadiri oleh tetangga terdekat maupun tetangga jauh yang berasal dari etnis
dan agama yang berbeda. Oleh karena tradisi haroa sudah mengakar pada
masyarakat islam Buton dan biasanya tidak hanya berorientasi profan semata,
tetapi juga berorientasi sakral sehingga pelaksanaannya bisa lebih cepat dan
mudah diterima oleh masyarakat.
3.2 SARAN
Dalam pembuatan makalah
ini penulis menyadari banyak kesalahan dan kekurangan. Untuk itu penulis sangat
mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah
ini.
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Muhuhammad. 2009. Naskah
Keagamaan dan Relevansinya dengan proses
Islamisasi Buton Abad Ke-14 Hingga
16. Naskah Buton, Naskah Dunia. Bau-Bau:
Penerbit Respect.


