Minggu, 18 Oktober 2015



TUGAS MAKALAH
                                                                 
AKHLAK DAN KEBUDAYAAN BUTON
PROSESI ADAT BUTON HAROA


585673734319s.jpg
 









DI SUSUN OLEH :


NAMA      :    ANISA
NIM           :    14  650  16
KELAS     :    A

DOSEN BIDANG STUDY : LA ODE RAMLAN SE,M.Si


PROGRAM STUDI TEKNIK INFORMATIKA
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS DAYANU IKHSANUDDIN BAUBAU
 2014 / 2015





KATA PENGANTAR

     Puji dan syukur kehadirat Allah yang maha Esa karena atas rahmat dan hidayah-Nya, penulis dapat  menyelesaikan tugas makalah ini pada waktu yang telah direncanakan. Tak lupa ucapkan terimakasih kepada Dosen Pembimbing mata kuliah Akhlak Dan Kebudayaan Buton yang telah memberikan tugas ini.
     Makalah ini Membahas Tentang Prosesi Adat Masyarakat Buton Yaitu Haroa, selanjutnya pada poin-poin makalah, akan dijelaskan dengan  rinci agar mudah dipahami oleh pembaca dan diharapkan juga agar makalah ini membantu kita menambah pengetahuan dan wawasan kita khususnya kita yang berdomisili di Daerah Buton.
       Semoga karya tulis ini bermanfaat bagi pembaca terutama bagi penulis pribadi, dapat menambah pengetahuan kita khususnya pada Prosesi Adat Masyarakat Buton Yaitu Haroa dan apa saja manfaat dari Haroa Tersebut .
        Penulis menyadari, karya tulis ini jauh dari sempurna  karena kesempurnaan hanya milik Allah subhanahu Wataala. Tapi penulis telah berusaha semaksimal mungkin dalam pembuatan karya tulis ilmiah ini. Oleh karena itu, kritik maupun saran sangat diharapkan agar karya tulis ilmiah ini menjadi lebih baik.
       .

                                                                                                Baubau, 20 November 2014


           
                                                                                                            Penulis 




DAFTAR ISI

Halaman Judul...................................................................................................................... i
Kata Pengantar.................................................................................................................... ii
Daftar Isi............................................................................................................................. iii

Bab   I     Pendahuluan......................................................................................................... 1
               1.1    Latar Belakang............................................................................................. 1
               1.2    Rumusan Masalah ....................................................................................... 2
               1.3    Tujuan ......................................................................................................... 2
                       
Bab   II   Pembahasan ......................................................................................................... 3
               2.1    Pengertian Prosesi adat buton Yaitu  haroa ,..........................................      4
               2.2    Jenis pelaksanaan  Haroa Di Buton............................................................. 4
               2.3    Perlu adanya Pelaksanaan Haroa di Buton.................................................. 6
               2.4    Manfaat Yang Di Peroleh dari Pelaksaan Haroa di Buton.......................... 6
              
Bab   III  Penutup................................................................................................................. 7
               3.1    Kesimpulan.................................................................................................. 7
               3.2    Saran............................................................................................................ 7
Daftar Pustaka




BAB I
PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang
      Yang melatar belakangi terselenggaranya Haroa Merupakan tradisi yang dapat membangun dan menjaga hubungan keakraban dan kekeluargaan antara banyak orang khususnya menjelang pelaksanaan hari-hari besar islam dan dengan di adakannya haroa dikalangan masyarakat Buton diyakini bahwa adanya Sumanga (arwah) nanti marah dan terkena tulah (dikirimi penyakit), Pemali . Orang-orang  Buton umumnya mempercayai bahwa para kerabat  yang telah meninggal sebenarnya hanya berpindah hidup ke alam lain. Kematian badaniah  tidaklah  juga adalah kematian roh.  Dalam pemahaman orang-orang tua Buton, roh tidaklah mati, sekalipun badan tempatnya bertinggal telah binasa diambil tanah. Ia terus bebas berpindah dan hidup. Itulah dalam Wolio roh disebut Lipa, Lipa adalah kata dalam Wolio yang bermakna ‘berpindah’, atau ‘pergi’. Schoorl memakai kata ini untuk merujuk ke berpindahnya roh yang ia sebut sebagai reinkarnasi. Bagi sebagian orang Buton, kematian badaniah tidak  sertamerta  memutus komunikasi dengan roh kerabat yang telah mendahului menghadap-Nya itu, Ini pula rupanya diyakini umumnya masyarakat Buton. Sehingga kemudian akan sering kita melihat ritual-ritual yang dipakai sebagai media komunikasi dengan kerabat yang telah mendahului itu. Orang-orang Buton memberi  identitas tersendiri kepada semua arwah leluhur itu dengan menamai mereka sebagai Sumanga. Sumanga adalah arwah leluhur yang dipercayai terus memperhatikan, dan memerlukan pula perhatikan. Jika tidak, mereka akan melakukan ‘protes’ dan menegur dengan mengirim tuah penyakit. Memang sulit dinalar ini bisa terjadi, tetapi bukankah yang terjadi di bumi fana ini ada banyak sekali yang tak bisa di nalar dan keluar dari pakem perangkap nalar akal. Beberapa orang tua bahkan menyebut Haroa itu sebenarnya adalah pembutonan kata ‘Arwah’ sebagaimana ‘Sahadha’ untuk ‘Sahadat’.
1.2      Rumusan Masalah
     Adapun Rumusan Masalah Dalam Makalah Prosesi Haroa Tersebut Adalah :
1.    Apa Yang Di Maksud  Dengan Haroa di Buton ?
2.    Mengapa Masyarakat Buton Mengadakan  Haroa ?
3.    Penjabaran  Macam – Macam Haroa di Buton ?
4.    Dan  Manfaat Apa Saja Yang Dapat Diambil dari Pelaksanaan Adanya Haroa ?

1.3      Tujuan
               Adapun tujuan dalam makalah prosesi haroa  adalah  Untuk  menambah wawasan  lebih dalam lagi tentang  prosesi adat  Buton  yaitu  Haroa, Makna apa saja yang terkandung dalam sebuah prosesi tersebut dan kenapa harus di selenggarakan prosesi tersebut karena sudah menjadi suatu adat kebiasaan yang selalu di selenggarakan pada hari ketentuan Haroa.













BAB II
                                                             PEMBAHASAN       

2.1  Pengertian  Prosesi Adat Haroa di Buton
Haroa merupakan  Perayaan Hari Besar Islam. Bagi Masyarakat Buton, Haroa merupakan salah satu perayaan yang takkan dilewatkan.  Menurut pribadi saya, Haroa sendiri merupakan perayaan yang dapat memberikan pelajaran-pelajaran kecil yang bermakna religious dan dapat dikatakan efesien, Kita akan memanjatkan doa dalam sepanjang pelaksanaannya. Dan dapat memperat tali slaturahmi antar kerabat supaya lebih erat dan tidak putus.             Haroa  juga dapat berarti tradisi acara/perayaan bersama-sama dapat menjadi sarana resolusi konflik serta integrasi dari beberapa suku di pulau Buton dan sekitarnya, penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan tradisi haroa di adakan di rumah-rumah orang, dimana  semua anggota keluarga dan tetangga di undang. Acara seperti ini bisa menciptakan suasana harmoni, dan kebersamaan dengan berdoa bersama – sama, berjabat tangan dan menyapa diikuti oleh makan bersama.
Haroa biasa dilaksanakan di dalam rumah-rumah warga  diikuti anggota rumah dan tetangga yang diundang.  Mereka duduk mengumpul pada satu ruangan . Acara biasa diawali dengan Pembacaan ayat-ayat suci al-quran yang di lakukan oleh Lebe kemudian, meletakkan Dupa yang dibakar sebagai pelengkap Haroa.





https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEglDK9ad1nh8vScFLg30tBr18jKo8KwYF_Lws1lhsZu3-nVWO-oJKg8MqnvsXcX-wLfzqrZovztfa56xzNdpLFgzpWd20WmWyEQTx1rOrH9uGg1IPokaQL6dvtlaDIWkrIxAU871_9aUf6L/s320/20022011.jpg
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjBeTgx5G1G7HqUI_YBY40Pi3jd87oq19U7oQ5W1iohAHt3-bcSGXCAx8ARaGRkZD9F69H_LPzv9icmUhF_bttyLvj0yPLBDvPy2i85aphulfIX7SIgxaf-hAFgquOc2758KcgX55lFioUE/s400/IMG0400A.jpg
 
                                                                            


           Pengaturan cara penyimpanan                   Pembacaan  Ayat-ayat alquran serta
                       isi talang haroa                                  pengimpanan dupa pada bara api
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgSya13hALkc2m-XlA2z-jiO0vDwWoHwBqlVCVXI-bsnAHqGypvGVj23y6H3HcZbxblsMVBHJFXFHjBfz48wDWh2Ws1e5uYX7ugUfwD7FkEIjc5D_oaFETlavYmbDcKXRHrFReR0aiF8NHj/s200/IMG0402A.jpghttp://jalan2.com/wp-content/themes/Jalan-Main/thumb.php?src=http://jalan2.com/wp-content/uploads//2012/09/ce8eb2db7b169c7b78e5389e1905ed89.jpg&w=580&h=390&zc=1&a=c&q=100&bid=1Ditutup dengan  makan bersama, Undangan di suguhkan dengan makanan-makanan khas Buton. Terdapat kue-kue kecil sebagai makanan penutup dan hanya ditemukan didaerah Buton. Seperti, Onde-onde, baruasa (kue beras), ngkaowi-owi (ubi goreng), sanggara (pisang goreng).  Khasnya, kue-kue tersebut biasa di bawa pulang. Dan itu disebut Katange.
  





4.1  Gambar Prosesi setelah Haroa                             4.2  Gambar  Makanan Isi Talang Haroa

2.2  Jenis Pelaksanaan haroa yang ada di Buton
         Ada beberapa Jenis Haroa dalam pelaksanaannya antara lain :
1.      Pekandeana anana maelu

Haroa ini diadakan setiap tanggal 10 Muharram. Tanggal 10 Muharram dirayakan oleh para sufi dengan tersedu-sedu. Pada hari ini, cucu Rasulullah, Hussein bin Ali, dibantai bersama seluruh keluarga dan pengikutnya. Makanya, di kalangan penganut ahlul bayt, tanggal 10 Muharram senantiasa dirayakan agar menjadi pelajaran bagi generasi penerus.
   2.      Haroana Maludu
Haroa maludu dilaksanakan pada Bulan Rabiul Awal. Yang dilaksanakan untuk memperinganti Hari Lahir Nabi umat Islam, MUHAMMAD SAW. Haroa Maludhu merupakan kegiatan ritual budaya yang bernuansa Islam dan mengandung filosofi terhadap peradaban masyarakat Buton. Sehingga pada pelaksanaannya terlihat kesakralan dalam rangka memperingati kelahiran baginda Nabi Muhammad SAW yang merupakan Rahmatan Lil Alamin.
       
           3.      Haroana Rajabu
Adalah untuk memperingati Syuhada yang gugur dimedan perang dan mereka telah memperjuangkan Islam bersama Nabi Muhammad SAW . Haroana Rajabu dilakukan pada hari Jumat pertama di bulan Rajab dengan melakukan tahlilan serta berdoa semoga para syuhada tersebut diberi ganjaran yang setimpal oleh Allah.

    4.      Malona Bangua
Haroa yg satu ini dilaksanakan pada Hari Pertama Ramadhan.  Pada masa silam, hari pertama Ramadhan dimeriahkan dengan dentuman meriam. Kini, dentuman meriam itu sudah tidak terdengar. Masyarakat merayakannya dengan doa bersama di rumah serta membakar lilin di  kuburan pada malam hari .

        5.      Qunua
Qunua ini berkaitan dengan Nuzul Qur’an (Qunut). Biasa dilaksanakan pada pertengahan bulan suci  Ramadhan  atau pada 15 malam puasa. Dulunya, masyarakat memeriahkannya dengan membawa makanan ke masjid keraton dan dimakan secara bersama-sama menjelang waktu sahur.  Qunua dilakukan salat tarwih dan dirangkaian dengan sahur secara bersama-sama di dalam masjid.

        6.      Kadhiri
Upacara yang berkaitan dengan turunnya Lailatul Qadr di bulan suci Ramadhan. Upacara ini tgata pelaksanannya mirip dengan Qunua, yakni setelah salat Tarwih dirangkaikan dengan sahur secara bersama-sama di dalam masjid. Biasanya dilaksanakan pada 27 malam Ramadhan karena diyakini pada malam itulah turunnya Lailatul Qadr.

2.3       Perlu adanya Pelaksanaan Haroa di Buton
Prosesi adat haroa sangat di perlukan  karena  ritual ini  menurut masyarakat Buton dipakai sebagai media menggamit tangan tangan arwah leluhur sebagai bentuk memerhatikan mereka, sebagai wujud tidak mereka dilupakan. Inilah Haroa, sarana silaturahim dengan arwah para leluhur.

2.4       Manfaat Yang Di Peroleh dari Pelaksaan Haroa di Buton.
                          Adapun Manfaat pelaksanaan haroa di Buton adalah Mempererat tali silaturahmi antar  suku maupun kerabat  yang berbeda supaya lebih erat dan tidak putus,  dan menumbuhkan suasana harmoni kekeluargaan .















BAB III
PENUTUP

3.1    KESIMPULAN
            Betapa  pentingnya proses penyelenggaraan Haroa selain sebagai sarana mengenang para arwah leluhur juga untuk mempererat tali silaturahmi antar masyarakat, dan juga sebagai peredam rasa konflik antar suku yang berbeda. haroayang di awali dengan berdoa bersama, salam-salaman dan dilanjutkan dengan santap bersama  juga biasa dihadiri para undangan yang bukan hanya handai toulan, tetapi juga dihadiri oleh tetangga terdekat maupun tetangga jauh yang berasal dari etnis dan agama yang berbeda. Oleh karena tradisi haroa sudah mengakar pada masyarakat islam Buton dan biasanya tidak hanya berorientasi profan semata, tetapi juga berorientasi sakral sehingga pelaksanaannya bisa lebih cepat dan mudah diterima oleh masyarakat.

         3.2 SARAN
            Dalam pembuatan makalah ini penulis menyadari banyak kesalahan dan kekurangan. Untuk itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini.







DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Muhuhammad. 2009. Naskah Keagamaan dan Relevansinya dengan proses
Islamisasi Buton Abad Ke-14 Hingga 16. Naskah Buton, Naskah Dunia. Bau-Bau:  
Penerbit Respect.